Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Para Peneliti dan Guru Managemen membantu dunia Bisnis dan Industri mengenali kemana Zaman ini menuju kepada satu kesimpulan " HIDUP TIDAKLAH SEMAKIN MUDAH"


Persoalan datang dengan kompleksitas yang kian tinggi, Tak ada jawaban yang pasti , semua hanya mampu menduga. Hanya orang-oranyang baru bangun tidur yang merasa mampu mengangkat semua beban sendiri, atau mungkin sudah terlalu bingung menghadapi semua permasalahan.


Organisasi yang bertahan hidup bukanlah yang menyendiri dipuncak kejayaan dan keunggulan dari yang lain, melainkanjustru mereka yang merangkul dan bersinergi dengan banyak pihak untuk maju bersama dan menebar sebanyak mungkin manfaat untuk kemanusiaan. Ini adalah hukum alam yang berlaku absolut pada ranah sosial.

Dunia tidakmenjadi lebih baik ketika kemakmuran di nikmati sendiri, pengetahuan di pegang sendirian, kekuasaan juga dipegang sendiri. " KEBERSAMAAN ADALAH KATA KUNCI KESUKSESAN DAN KESELAMATAN


Terdorong oleh kesadaran tersebut BAITUL IZZA hadir di tengah MASYARKAT membawa harapan dan semangat baru, dengan Motto "LEARNING, TRANFORMING DAN LEADING" kami siap bersinergi dengan siapapun yang berkomitmen meningkatkan kualitas kehidupan manusia terutama di dunia Managemen dan Bisnis yang selaras dengan prinsip- prinsip hidup Universal.

Amin Ya Robbal Alamin



BAITUL IZZA.

[GALERI] Pemberangkatan Maret 2015














[GENERASI ISLAMI] - Mengenalkan Al-Qur'an Sedini Mungkin



Perkembangan zaman, ilmu pengetahuan, teknologi serta industri yang sangat pesat membuat tantangan hidup semakin berat. Perubahan zaman dengan segala kemajuannya berdampak pada perilaku dan akhlak generasi penerus umat di masa depan. Salah satu, dari pesatnya perkembangan zaman adalah mudahnya pengaruh budaya asing  baik yang positif maupun negatif masuk dan diserap anak-anak. Maka tidak berlebihan   jika sebagian besar orangtua  merasa khawatir dengan masa depan anak-anaknya.

Apa yang dikhawatirkan umat manusia akan perkembangan zaman ini, pernah disampaikan Rasulullah SAW melalui pesan di akhir hayatnya, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu kitabullah (Alquran) dan sunah Rasulullah SAW.”' (Hr muslim).

Jika dalam menghadapi tantangan zaman tersebut kita berpegang pada apa yang dipesankan Rasulullah SAW, para orang tua tak perlu lagi khawatir. Kuncinya memberi bekal pada putra-putri kita dengan Al-Quran dan sunah Rasulullah SAW.




Al-Quran merupakan pedoman hidup manusia. Dengan mengajarkan Al-Quran sejak dini, berarti mengajak anak untuk lebih dekat dengan pedoman hidupnya kelak. Didiklah anak-anak kamu pada tiga perkara: mencintai nabi kamu, mencintai ahli baitnya dan membaca al-quran, sebab orang-orang yang memelihara Al-Quran itu berada dalam lindungan singgasana Allah pada hari tidak ada perlindungan selain dari pada perlindungan-nya beserta para nabinya dan orang-orang suci,” (hr. Ath-thabrani).

Sejak kapan kita harus mengenalkan Al-Quran pada anak-anak kita? Pertanyaan tersebut sering kali terlontar dari para orang tua. Hal tersebut juga lantaran terpengaruh berbagai macam teori yang pernah dibacanya. Ketika ada teori yang mengatakan mendengarkan musik klasik saat janin dalam kandungan bisa meningkatkan kecerdasan anak, percayalah bahwa mendengarkan Al-Quran akan lebih baik dari teori tersebut. Apalagi jika lantuman Al-Quran datangnya dari bacaan si ibu yang mengandung janin tersebut.

Ketika membaca Al-Quran, suasana dan pikiran ibu akan menjadi lebih khusyu dan tenang. Kondisi tersebut akan membantu perkembangan psikologis janin yang ada dalam kandungan. Seperti halnya saat si ibu dalam keadaan stress maka pengaruhnya akan terasa pada  janin.

Selepas melahirkan, proses mengenalkan Al-Quran tidak boleh terhenti. Meski bayi belum mengerti, namun pendengarannya sudah tidak asing lagi kita lantuman Al-Quran diperdengarkan. Itu akan membuat bayi menjadi lebih terbiasa dan akan merasa ketagihan jika belum mendengar suara orang mengaji. Dan harus diingat orang tua, bahwa usia 0 hingga 6 tahun menjadi usia emas untuk dibekali segala hal kebaikan. Dan mendengarkan lantuman Al-Quran adalah kebaikan yang hakiki.



Saat anak mulai belum lancar berbicara, atau sejak usia 2 tahun, biasakan mengajaknya mengenal surat-surat pendek, karena saat itu si anak tengah menggunakan memori secara maksimal. Pengucapan basmalah dalam setiap kegiatan yang dilakukan menjadi cara paling mudah. Atau mengajarkan kalimat salam ketika masuk rumah atau bertemu orang lain.

Saat kita sudah sering mengenalkan kalimat Al-Quran atau surat-surat pendek, maka jangan kaget jika si anak satu waktu ikut membacanya. Itu merupakan bukti si anak menggunakan memori saat kita mengenalkannya.

Setelah anak lancar berbicara, mulailah mengenalkan bacaan tersebut dengan cara mengajaknya menghafal. Sering-seringlah membaca surat yang kita ajarkan, lalu meminta si anak menirukannya. Ulanglah hingga si anak merasa dia sudah bisa. Tapi para orang tua juga harus pandai melihat kapan waktu yang tepat mengajak anak menghafal. Diusahakan saat anak merasa nyaman, atau tidak mengganggu ketika anak tengah merasa senang dengan permainannya.

Dari proses tersebut akan diperoleh manfaat lain, saat masuk usia sekolah, yaitu daya konsentrasinya yang baik. Sehingga bisa mendongkrak prestasi belajar di kemudian hari.



Saat memasuki usia sekolah, sebisa mungkin orang tua memilih sekolah yang memberi porsi pemahaman islam lebih banyak. Ini untuk membuat anak semakin kuat dalam pemahaman Al-Quran. Sehingga kelak setelah dewasa akan menjadi generasi islami seutuhnya, yang berpedoman pada Al-Quran dan assunah.

Amin Ya Robalalamin.. (**)

Tulisan ini pernah ditayangkan di acara "Buka Mata Buka Hati" RTV  yang tayang setiap hari Senin-Jumat pukul 13.00 WIB 

Anjuran Menjadi Kaya Dalam Islam



 Sebelum mengawali aktivitas hari ini, penulis ingin mengajak sobat Zahara mendalami perihal anjuran kaya menurut islam.

Dalam pengertian secara umum, kaya berarti banyak memiliki harta, atau lebih spesifik lagi kaya berarti banyak uang. Setiap orang sangat berharap bisa menjadi kaya. Dalam islam, walaupun tidak tertulis secara tegas, namun setiap orang dianjurkan untuk menjadi kaya. Namun islam menempatkan harta dalam posisi yang netral. Kaya bukan sesuatu yang tercela, atau juga menjadi yang terpuji, melainkan pemilik harta itulah yang menjadikan harta berubah menjadi fitnah atau anugerah. Islam membenarkan harta sebagai penyangga dalam kelancaran dalam menjalani hidup.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan janganlah kami serahkan (harta-hartamu) kepada orang-orang yang bodoh, harta yang dijadikan Allah SWT bagimu sebagai pokok kehidupan”.(Qs An-Nisa:5)

Bahkan dalam beberapa ayat, seperti dalam Alquran surat Al-Adiyat ayat 8, dan Al Baqarah ayat 180, Allah SWT juga menyebutkan harta dengan lafads “Al-Khoir” yang berarti kebaikan. Arti tersebut mengisyaratkan sebuah adanya hikmah dan rahasia kebaikan dalam harta.  Oleh karena itu janganlah takut terhadap harta, namun yang harus ditakuti, akan dibawa kemana harta yang kita miliki tersebut. Karena harta bisa melalaikan kita untuk beribadah. Sebaliknya ketika kita tidak lalai dan mengingat Allah SWT, maka harta kekayaan kita akan dijadikan keberuntungan oleh Allah SWT. 

Allah SWT berfirman yang artinya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kami dari mengingat Allah. barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi”.(Qs Al-Munafiqun: 9).

Ayat tersebut menegaskan jika kita lalai karena harta, allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang merugi, dan status harta menjadi fitnah. Untuk itulah jika kita sudah bisa menempatkan harta dengan baik, dan memahami berada di mana posisi harta dalam hidup kita, atau kita tidak mendewakan harta, maka setiap muslim sudah bisa melangkah lebih jauh dalam mencari harta. Bahkan jika memungkinkan carilah harta tersebut untuk menjadi seorang muslim yang kaya. Dan banyak alasan bagi seorang muslim untuk menjadi kaya.

Pertama, dengan menjadi orang kaya, berarti kita akan lebih bisa bermanfaat bagi yang lainnya. Rasulullah SAW bersabda, “Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. (Hr Baihaqi).

Alasan kedua, dengan menjadi kaya, akan menjauhkan diri dari efek negatif  kemiskinan. Rasulullah SAW sejak dini mengajarkan pada kita untuk menjauhi kemiskinan. Dalam doa-doa beliau senantiasa diisyaratkan mengarah pada kekayaan, dan terlepas dari kemiskinan. Dari abdullah bin mas’ud, bahwasannya Rasulullah SAW berdoa pada dua hari raya, “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-mu ketakwaan, hargadiri, kekayaan dan petunjuk”. (Hr Thobroni).

Ketika seorang muslim menjadi kaya, maka ia akan menjauhi bahaya dari kemiskinan. Efek negatif dari kemiskinan sangat dahsyat, orang tersebut bisa tipis dalam agamanya, lemah akalnya,  dan hilang kewibawaanya. Bahkan bisa lebih buruk lagi, karena orang-orang bisa saja meremehkannya.



Alasan lainnya yang mendorong seorang muslim harus menjadi orang kaya adalah, banyaknya amal ibadah dan anjuran islam yang membutuhkan dana besar. Banyak amalan syar’i yang membutuhkan banyak uang untuk melakukannya, seperti haji. Lihat saja di zaman sekarang ini, biaya untuk menunaikan haji sangat tinggi. Untuk membayar transportasi hingga tiba di tanah suci, membutuhkan puluhan juta rupiah. Dan pendanaan sebesar itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki kekayaan yang melimpah.



Selain amalan wajib seperti haji yang membutuhkan dana besar, masih banyak amalan lain, seperti amalan sunnah yang dianjurkan islam dan membutuhkan dana besar untuk bisa menjalankannya. Dan yang paling dekat dalam kehidupan kita yaitu menuntut ilmu. Amalan sunnah tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit, jika ilmu yang kita inginkan lebih tinggi. Biaya sekolah khusus dengan menitik beratkan agama hampir bisa dipastikan harganya lebih mahal dari sekolah biasa. Belum lagi untuk mencari ilmu lainnya, sebagai penunjang ilmu agama yang juga membutuhkan dana cukup banyak. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang kaya. Bahkan jika kita bercermin pada apa yang dilakukan umar bin khatab dalam mengenalkan amalan sunnah pada anakya yaitu berenang, menungang kuda, dan memanah, pada zaman sekarang hampir bisa dipastikan harus mengeluarkan dana yang besar.

Alasan lainnya dari islam yang menganjurkan seorang muslim harus menjadi orang kaya adalah melarang kita meninggalkan generasi yang miskin. Islam tidak menyukai jika para orang tua yang tidak meninggalkan harta yang cukup pada keturunan, atau anak-anaknya. Jika mereka meninggal dunia, keturunan yang ditinggalkannya tidak boleh dalam kondisi lemah, apalagi meminta-minta kepada orang lain. Dengan kata lain orang tua harus meninggalkan harta warisan yang cukup bagi keturunan kita yang akan datang. Jika memungkinkan bukan hanya sekadar kaya, tapi kaya raya, sehingga beberapa generasi bisa aman menjalani hidup.

Alasan terakhir agar setiap muslim diwajibkan menjadi orang yang kaya adalah karena kita berhak merasakan kenikmatan di dunia yang tidak bertentangan dengan syariat islam. Dan beberapa diantaranya kenikmatan tersebut harus mengeluarkan dana. Segala kenikmatan dunia yang diciptakan Allah SWT, memang diperuntukkan bagi manusia. Allah SWT juga mengingatkan manusia agar tidak hanya mengejar kenikmatan dunia, tapi juga harus mengambil dari kenikmatan dunia. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. (Qs Al-Qoshos: 77).



Tulisan ini pernah ditayangkan di acara "Buka Mata Buka Hati" RTV  yang tayang setiap hari Senin-Jumat pukul 13.00 WIB 

Malaikat

MALAIKAT 


Renungan.

Dari hadits Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah ra bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita lepra, orang berkepala botak, dan orang buta.

Allah mengirim malaikat untuk menguji tiga orang yang cacat tersebut.  Pertama Malaikat  datang  pada penderita lepra.

”Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Tanya Malaikat.

Si lepra menjawab, “Rupa yang elok, kulit yang indah, dan apa yang telah menjijikkan orang-orang ini hilang dari tubuhku.”

Malaikat mengusap penderita lepra  dan hilanglah penyakit yang dideritanya.

Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Ia menjawab, 'Unta atau sapi.” Maka diberilah ia seekor unta yang bunting.

Malaikat kemudian mendatangi orang berkepala botak dan bertanya kepadanya, “Apakah yang paling kamu inginkan?”

Si botak menjawab, “Rambut yang indah dan hilang dari kepalaku apa yang telah menjijikkan orang-orang.“ Maka diusaplah kepalanya, dan ketika itu hilanglah penyakitnya serta diberilah ia rambut yang indah.

Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, “Kekayaan apa yang paling kamu senangi?”

“Sapi atau unta,“ jawab si botak. Maka diberilah ia seekor sapi bunting.

Malaikat kemudian mendatangi si buta dan bertanya kepadanya, “Apakah yang paling kamu inginkan?”

Si buta menjawab, “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang-orang.” Maka diusaplah wajahnya, dan ketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya.

Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, “Lalu, kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Jawabnya, “Kambing.” Maka diberilah seekor kambing bunting.
Sumber : hafizamri.com

Waktu telah berlalu. Ketiga orang itu telah maju. Ternak mereka telah berkembang biak.  Hingga datanglah Malaikat itu menyerupai penderita lepra.

“Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku, sehingga aku tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang elok, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku meminta kepada anda seekor unta saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.”

Namun jawaban si lepra begitu mengejutkan, “Hak-hakku (tanggunganku) banyak.”

Malaikat yang menyerupai orang penderita lepra itu pun berkata kepadanya, “Sepertinya aku mengenal Anda. Bukankah Anda ini yang dulu menderita lepra, orang-orang jijik kepada Anda, lagi pula anda orang melarat, lalu Allah memberi Anda kekayaan?”

Dia malah menjawab, “Sungguh, harta kekayaan ini hanyalah aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Maka Malaikat itu berkata kepadanya, 'Jika Anda berkata dusta, niscaya Allah mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.”

Malaikat kemudian mendatangi orang yang sebelumnya botak dan berkata sebagaimana ia katakan pada orang yang pernah menderita lepra. Namun ia ditolaknya sebagaimana telah ditolak oleh orang pertama itu. Maka si malaikat berdoa dengan doa yang sama sebagaimana orang pertama.

Terakhir, si Malaikat mendatangi orang yang sebelumnya pernah buta. “Aku seorang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak akan dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan Anda, aku meminta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.”

Orang itu menjawab, “Sungguh, aku dahulu buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka, ambillah apa yang Anda sukai dan tinggalkan apa yang Anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit Anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah Anda ambil karena Allah.”

Malaikat yang menyerupai orang buta itupun berkata, “Peganglah kekayaan Anda, karena sesungguhnya kalian ini hanyalah diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada Anda, dan murka kepada kedua teman Anda."

Kisah orang-orang kufur ini diambil dari Hadistyang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab “Ahaditsil Anbiya”, bab hadis tentang orang berpenyakit lepra, orang buta dan orang botak di Bani Israil (6/500 no. 3464). Bukhari menyebutkannya secara ringkas sebagai penguat dalam Kitab “Iman wan Nudzur”, (11/540), no. 6653.



Dari kisah di atas tersebut, pernahkah kita mengalami hal mirip dengan kejadian di atas?. Pernahkah kita merenung sejenak apakah mereka yang meminta pertolongan kita itu benar-benar manusia ataukah malaikat yang sedang menguji kita, ataukah orang-orang yang menolong kita itu benar-benar manusia ataukah malaikat-malaikat yang dikirim oleh Allah untuk menolong kita.

Coba kita ingat-ingat sejenak mereka yang menolong kita, apa benar mereka itu tetangga kita, saudara kita, teman sejawat yang kita kenal, para pejabat yang ditugaskan, pedagang yang sedang lewat, nenek yang berwajah ramah ataukah mereka jelmaan dari para malaikat-malaikat Allah?

Begitu pula orang-orang yang pernah kita tolong, benarkah mereka itu manusia?. Wallahu ‘alam, kita tidak pernah mengetahuinya secara pasti. Tapi jika kita simak Surat Al Anfaal, 8 : 9. "(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-NYA bagimu : “sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”

Allah SWT akan menolong kita dengan mengirimkan pertolongan 1.000 malaikat yang akan datang kepada kita. dan kita pun mengetahui bahwa malaikat dapat berubah bentuk menjadi entah siapa, juga dalam bentuk entah apa. Namun hati-hati sahabat, ingatkah juga kita kepada orang-orang yang kita pernah menolak memberikan pertolongan kepadanya?

Benarkah mereka hanya pengemis biasa, anak-anak yatim dhuafa, tetangga yang sedang berkesusahan, atau boleh jadi mereka adalah jelmaan malaikat yang sedang Allah utus untuk menguji kita semua.


Wallahu A’lam bish shawwaab.